Tinggal sendiri sering terasa seperti simbol kebebasan. Bisa atur hidup sendiri, punya ruang pribadi, dan bebas mengambil keputusan. Tapi di balik itu, ada satu tantangan besar yang sering diremehkan: keuangan. Banyak orang baru sadar bahwa hidup mandiri bukan cuma soal bayar sewa, tapi juga soal mengelola uang dengan lebih rapi dari sebelumnya.
Sayangnya, di fase awal ini justru banyak kesalahan finansial yang terlihat sepele, tapi dampaknya bisa panjang.
1. Semua Pengeluaran Dicampur Jadi Satu
Kesalahan paling umum saat mulai tinggal sendiri adalah mencampur semua uang di satu rekening. Gaji masuk, lalu keluar untuk sewa, makan, nongkrong, langganan digital, sampai belanja impulsif, semuanya lewat jalur yang sama. Akibatnya, sulit tahu mana uang yang memang untuk kebutuhan, dan mana yang kebablasan.
Tanpa pemisahan yang jelas, pengeluaran kecil terasa tidak berbahaya, padahal kalau dikumpulkan bisa menggerus keuangan secara perlahan.
2. Menunda-nunda Soal Dana Darurat
Saat baru tinggal sendiri dan merasa sehat serta produktif, dana darurat sering dianggap tidak mendesak. Banyak yang berpikir, kalau ada apa-apa nanti saja dipikirkan. Padahal, justru di fase ini risiko finansial lebih besar karena tidak ada lagi penyangga dari rumah.
Ketika dana darurat tidak disiapkan sejak awal, satu kejadian tak terduga saja bisa membuat keuangan langsung goyah dan memaksa kita mengambil keputusan terburu-buru.
3. Fokus ke Gaya Hidup, Lupa Tujuan Jangka Menengah
Tinggal sendiri sering datang dengan pengeluaran baru yang terasa wajar. Makan di luar, membeli baju dan sepatu baru, sampai kebiasaan kecil yang dulu jarang dilakukan. Masalahnya bukan di pengeluarannya, tapi ketika semua itu mengalahkan tujuan jangka menengah seperti menabung atau membangun aset.
Tanpa sadar, uang habis untuk kenyamanan hari ini, sementara rencana enam bulan atau setahun ke depan tidak pernah benar-benar dimulai.
4. Tidak Punya Sistem, Hanya Mengandalkan Ingatan
Banyak orang merasa tidak perlu mencatat uang. Selama saldo masih ada, berarti aman. Pola ini berbahaya, karena keuangan butuh sistem, bukan sekadar perasaan. Tanpa sistem, keputusan finansial jadi reaktif dan mudah goyah saat kondisi berubah.
Padahal, hidup mandiri justru menuntut keteraturan agar kebebasan tetap terjaga.
Saat Sistem Keuangan Mulai Dibutuhkan
Kesalahan-kesalahan di atas bukan karena kurang pintar, tapi karena belum punya alat yang mendukung kebiasaan finansial yang sehat. Di titik inilah peran bank digital menjadi relevan, terutama bagi mereka yang ingin mengatur uang tanpa ribet.
Salah satu keunggulan Krom bank adalah fleksibilitas dalam memisahkan keuangan sesuai kebutuhan hidup mandiri. Pengguna bisa membuat hingga 19 tabungan terpisah dan sampai 40 deposito yang masing-masing bisa diberi nama sesuai tujuan. Pendekatan ini membantu memisahkan uang sewa, uang harian, dana darurat, hingga tabungan jangka menengah tanpa harus membuka banyak rekening di tempat berbeda.
Untuk dana yang ingin tetap fleksibel, tersedia deposito dengan bunga sekitar 6,5%–7,75% per tahun yang bisa dicairkan tanpa biaya penalti, dengan bunga berjalan setara tabungan. Sementara untuk dana yang ingin ditumbuhkan lebih optimal, ada opsi deposito dengan bunga hingga sekitar 8,25% per tahun. Semua bisa diatur langsung dari satu aplikasi.
Sebagai bank yang berizin dan diawasi OJK serta BI dan merupakan peserta penjaminan LPS, Krom juga memberi rasa aman bagi mereka yang baru belajar mengelola keuangan secara mandiri.
Tinggal sendiri bukan soal hidup paling bebas, tapi soal belajar bertanggung jawab atas pilihan sendiri. Dengan sistem keuangan yang rapi sejak awal, hidup mandiri bisa tetap ringan, tanpa harus mengorbankan rasa aman di masa depan.